Pojok Terakhir

“KlSAH ANGSA EMAS “

78 Views

MaliqNews.com –

Namo Buddhaya
Dhamma Untuk Anak dan Keluarga

” KlSAH ANGSA EMAS “

Pada suatu masa, Bodhisattva terlahir sebagai raja para angsa.
Ia merupakan pemimpin dari satu suku angsa yang besar.
Mereka tinggal bersama rakyatnya di Danau Manasa yang indah yang terletak di gunung Kailas di kawasan Himalaya.

Nama Bodhisattva ketika menjadi raja para angsa adalah Dhritarashtra, dan penasihatnya bernama Sumakha yang kelak terlahir sebagai Ananda.

Raja dan penasihatnya adalah dua angsa yang lebih unggul bila dibandingkan dengan angsa-angsa lain.
Mereka sering mengajarkan Dharma kepada anggota suku mereka layaknya
seorang guru dan murid terbaik mengajari murid-murid yang lain atau seorang ayah dan anak tertua mengajari anak-anak yang lebih muda.
Seluruh anggota suku angsa ini menjadi sangat terkenal di daerah sekitarnya karena perilaku mereka yang cinta damai dan adil terhadap sesamanya.

Danau tempat tinggal mereka sangatlah indah. Pepohonan yang berbunga terpantul di permukaan air danau, mengelilingi pinggirannya.
Teratai berwarna merah muda dan biru menyembul keatas air, mengistirahatkan daun-daun hijau mereka seperti senyuman manis seorang anak kecil di atas bantal. Di sini kawanan angsa
berenang bersama-sama laksana arakan awan putih di langit biru.

Kedua pemimpin angsa ini terlihat sangat anggun ketika berada di depan kawanan mereka atau ketika sedang mengajarkan
Dharma, sampai-sampai ketenaran mereka tersebar ke mana-mana dan muncul cerita bahwa mereka adalah manusia yang hanya kebetulan terjebak dalam rupa angsa.

Pada waktu itu, di Benares, hiduplah seorang raja bernama Brahmadatta.
Ia mendengar rakyatnya berbicara tentang kedua angsa yang luar biasa tersebut. Didorong rasa penasaran, ia
memerintahkan para menterinya untuk membuat rencana agar dirinya bisa melihat kedua angsa ini.
Para menterinya menjawab bahwa hanya terdapat satu kemungkinan untuk hal ini: sang raja harus membuat sebuah danau yang lebih indah daripada Danau Manasa, sehingga para angsa mungkin akan tertarik untuk pindah dari sana.

Sang raja merasa senang dengan rencana ini dan seketika itu juga memerintahkan untuk membangun danau besar di sebuah hutan, tak jauh dari ibukota.

Demikianlah sebuah kolarn di sana akhirnya diperluas dan diperdalam, dan teratai serta kembang air lainnya mulai bertumbuhan di danau baru tersebut.
Semak-semak dan pepohonan yang berbunga tersenyum dalam pantulan air jernih dan menaburkan tepung sari
mereka bak karpet di sekeliling danau.
Ikan-ikan berenang dengan riang di dalamnya. Gajah-gajah yang merasa senang dengan betapa jernih dan segarnya air mencelupkan belalai mereka ke dalamnyadan memandikan tubuh mereka yang besar.
Di malam hari, bintang dan rembulan berkilapan di atas danau yang jernih ini dan tak adayang dapat menyaingi pemandangan tersebut.

Setiap harinya, seorang penabuh gendang mengumumkan bahwa Raja Brahmadatta dengan senang hati memberikan danau ini, dengan semua isinya dan daerah di sekitarnya, sebagai hadiahkepada semua burung, serta menjamin keselamatan semua penghuninya.

Demikianlah semua burung mulai berdatangan. Bangau, flamengo dan burung air lainnya, serta bumng-burung penyanyi kecil memenuhi cabang pohon yang berdiri kokoh di pinggir danau.
Lebah-lebah bersenandung di antara kembang-kembang, merak merentangkan ekornya dan menari gembira mengitari danau, dan ayam pegar mengintip dari semak-semak.
Semuanya penuh kebahagiaan dan kedamaian. Tak ada pemburu atau nelayan yang diizinkan mendekat.

“Akan tetapi, di manakah angsa yang luar biasa tersebut, telah kuciptakan danau ini?” tanya Raja Brahmadatta suatu hari, ketika ia melihat ke danau dan melihat banyak burung
namun tak satu pun angsa.
“Mereka akan datang,” jawab menterinya. “ketika musimnya telah tiba bagi mereka untuk terbang.” Dan sang raja menunggu.

Suatu hari ketika awan hitam lenyap dari langit yang mendung, ketika bumi dan Danau Manasa tersenyum dengan eloknya, beberapa pasang angsa muda dari suku angsa Bodhisattva bersiap
terbang untuk perjalanan jauh.
Mereka melewati kota-kota dan hutan-hutan dan akhirnya melihat danau buatan sang raja terletak di sebuah lembah yang indah dan dikelilingi pepohonan yang rindang.

“Mari berenang di danau tersebut, yang terlihat seperti rumah kita sendiri,” kata seekor angsa, dan semuanya setuju.
Mereka terkejut ketika melihat bahwa semua burung air telahberkumpul di danau ini, namun tak satu pun angsa yang terlihat.
Ketika memandang sekeliling mereka melihat pohon sala, kadamba, arjiena, dan keteka yang dihinggapi burung-burung penyanyi.
Mereka melihat merak dan ayam pegar dan semuanya terlihat sangat bahagia dan puas. Tak ada ketakutan yang mengganggu kesenangan polos mereka.
Mereka sangat gembira dengan apa yang
mereka lihat, sehingga berharap semua teman angsa mereka juga dapat menikmati danau indah ini.

Mereka berdiam untuk beberapa lama di sana sehingga dapatmemberitahu semua yang mereka lihat kepada teman-temannya dan membujuk raja mereka untuk datang ke sini dengan seluruh
rombongan.
Mereka sendiri mendengar dari penabuh gendang bahwa keselamatan semua burung terjamin di danau ini dan sekitarnya, dan ini membuat mereka bahagia.

Para angsa berdiam di sana sampai awal musim hujan. Ketika langit untuk pertama kalinya dipenuhi awan, ketika kilat mulai menyala dan menyepuh awan kelabu dengan keindahan, ketika guntur bergulung lembut di kejauhan dan angin yang sejuk mulai bertiup, para angsa terbang kembali ke rumah dan suku mereka.

Mereka datang membawa banyak berita ke kawanannya dan memberikan gambaran yang sangat mengesankan ihwal danau yang dibuat Raja Brahmadatta, sampai raja mereka, Dhritarashtra, mendengarnya.

Mereka semua dipanggil menghadapnya. Setelah menggambarkan indahnya danau tersebut serta memberitahu
betapa burung-burung di sana memiliki kebebasan dan dilindungi Raja Brahmadatta, semua angsa tertarik pergi ke sana setelah musim hujan berakhir.

Namun sang raja berpaling kepada penasihatnya, Sumakha, dan bertanya tentang pendapatnya.
Sumakha menggelengkan kepalanya dan berkata: “Yang Mulia, saya tak memercayai manusia dan saya takut kalau keindahan tempat tersebut telah diciptakan sebagai jebakan bagi Yang Mulia. Burung-burung dan binatang
lain mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya dengan tangisan, tapi manusia adalah satu-satunya binatang yang menyamarkan perasaannya dengan mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang sebenamya mereka maksudkan.
Jika memang perpindahan ke danau tersebut harus dilakukan, maka saya menyarankan agar kita berdiam sementara saja dan tidak membawa seluruh kawanan ke sana.”

Para angsa tak puas dengan perkataan ini dan mereka meminta raja mereka untuk memboyong mereka ke danau indah tersebut.
Akhirnya sang raja menyetujui perpindahan ini.
Pada suatu malam purnama, Dhritarashtra dan Sumakha memulai perjalanan bersama rombongan mereka ke Benares. Ketika sampai di danau,
semua angsa merasa gembira dan hanya butuh waktu sebentar bagi mereka untuk melupakan rumah lamanya.
Mereka sangat bahagia dan puas dengan danau dan pemandangan sekelilingnya.
Mereka juga mendengar pengumuman bahwa keselamatan mereka terjamin
didanau ini.

Namun, penjaga danau melaporkan pada Raja Brahmadatta bahwa sejumlah angsa telah tiba dan dua di antaranya bersinar dalam keindahan, sehingga mereka berpikir bahwa inilah angsa
yang ingin dilihat sang raja.

Ketika sang raja mendengar hal ini, ia sangat gembira dan segera memanggil pemburu terbaiknya untuk menangkap kedua angsa tersebut.
Si pemburu mengamati kedua angsa ini dan mencari tahu di tempat mana mereka paling sering berada.
Setelah itu, ia menyiapkan jebakan-jebakan untuk menangkap mereka.

Tanpa curiga dan memercayai pengumuman sang raja, Dhritarashtra dan sahabatnya berenang dengan santai di antara teratai danau ketika tiba-tiba kakinya tersangkut jaring.
Untuk memperingatkan kawanan yang lain, ia berteriak nyaring bahwa ia telah tertangkap. Angsa-angsa pun terbang ketakutan ke udara.
Hanya Sumakha yang tetap bergeming di sisi rajanya.
Dhritarashtra memaksa sahabatnya ini untuk segera meninggalkan tempat tersebut, namun Sumakha menjawab: “Apa pun takdir Anda, Tuanku, maka itu akan menjadi takdir saya juga.
Saya selalu ada dalam setiap sukacita Tuan, maka saya juga takkan pergi dalam dukacita Tuan.”
Dhritarashtra menjawab: “Takdirku adalah berakhir di dapur, seperti semua burung lain yang tertangkap. Mengapa harus mengikutiku ke sana? Dan apa manfaatnya kalau kita berdua mati?”
Sumakha menjawab: “Dharma mengajarkan bahwa seseorang tak boleh meninggalkan sahabatnya dalam kesusahan, bahkan ketika ia harus mempertaruhkan nyawanya!”
Jawab Dhritarashtra, “Hal tersebut telah engkau buktikan, dan oleh karenanya, aku memintamu untuk pergi sekarang. Di samping itu, engkau juga harus menggantikan kedudukanku.”

Selagi berbicara satu sama lain, pemburu datang. Ketika melihat semua angsa telah melarikan diri kecuali dua ekor, ia
langsung berpikir bahwa jebakannya telah berhasil dan bergegas menuju mereka layaknya sosok Raja Kematian sendiri.

Ketika melihat bahwa hanya satu ekor yang tertangkap dan yang lain tetap di sisinya karena kehendak sendiri, ia sangat heran dan berkata pada Sumakha: “Aku bertanya-tanya kenapa burung ini, yang memiliki kebebasan, tak menggunakannya untuk melarikan
diri?”
Semakin heranlah pemburu ketika Sumakha menjawab: “Bagaimana mungkin engkau bertanya-tanya kenapa aku tak melarikan diri? Tidakkah engkau tahu bahwa kebaikan rajaku telah
mengikat hatiku padanya dengan jebakan yang Iebih kuat ketimbang milikmu yang telah menjerat kakinya?”

Penuh kekaguman, pemburu berkata: “Apakah ia bagimu? Semuanya telah terbang, tapi engkau?”
Sumakha menjawab: “Dia adalah rajaku, sahabatku, yang kucintai melebihi nyawaku sendiri. Bagaimana mungkin kutinggalkan ia dalam kesusahan?”

Pemburu cukup terharu dengan perkataan yang barusan didengarnya dan berkata: “Aku tak menginginkan kalian berdua, jadi terbanglah dan bergabunglah bersama kawanan kalian.”

Sumakha menjawab: “Jika hanya menginginkan salah satu dari kami, bawalah aku. Tubuh kami hampir serupa dan usia kami sama. Bebaskan rajaku dan bawalah aku sebagai gantinya. Dengan demikian, engkau takkan kehilangan hadiahmu. Bila engkau tak
percaya padaku, ikatlah aku segera setelah engkau membebaskan rajaku.
Rasa syukur dari semua angsa akan menjadi milikmu bila mereka melihat raja mereka yang terkasih kembali dengan selamat.”

Pemburu, meski sudah terbiasa dengan kekejaman, sangat tersentuh oleh cinta kasih satu angsa ini terhadap sahabatnya, sehingga akhirnya melupakan perintah raja untuk menangkap mereka.
Katanya, sambil menghormat kepada mereka: “Jika kesetiaan semacam ini ditemukan di antara umat manusia, maka
itu akan menjadi keajaiban. Aku harus menghaturkan hormatku padamu. karena mustahil aku mampu berbuat kejam pada ia yang demi dirinya engkau rela mengorbankan nyawamu. Aku akan
membebaskan tuanmu.”

Dengan perkataan ini, si pemburu, setelah meminta maaf pada Dhritarashtra karena telah menangkapnya, melepaskan jebakan tersebut.

Dengan tatapan syukur pada pemburu, Sumakha berkata: “Semoga engkau yang telah menggembirakan hatiku karena rela
membebaskan raja para angsa dapat terus berbahagia bersama para kerabat dam sahabat untuk ribuan tahun ke depan. Namun agar tak dihukum oleh sang raja, bawalah kami berdua ke hadapannya dengan keranjang terbuka tanpa ikatan. Sang raja pasti akan memberimu banyak hadiah.”

Setelah sedikit ragu, pemburu akhimya membawa kedua angsa ini kehadapan Raja Brahmadatta. yang sangat gembira ketika melihat mereka dan terkagum-kagum dengan keindahan mereka,
namun merasa heran kenapa mereka datang menghadapnya dengan tanpa terikat dan terluka.
Kemudian pemburu memberitahu raja keseluruhan kisahnya dan bagaimana ia begitu tersentuh oleh perkataan angsa dan kesediaannya untuk berkorban demi rajanya.

“Adalah angsa ini yang menyarankan kepada saya untuk membawa mereka ke hadapan Anda, sehingga saya dapat menerima hadiah dan tak dihukum oleh Anda. Apa pun rupa mereka, meski
saat ini tampil sebagai angsa, pastilah mereka adalah jelmaan manusia-manusia agung.”

Sang raja hampir tak dapat memercayai apa yang barusan didengarnya.
Dengan kegembiraan luar biasa, ia mendirikan sebuah singgasana emas untuk Dhritarashtra dan sebuah lagi dari bambu untuk penasihatnya.
Dhritarashtra, dengan suara selembut sepoi angin malam berkata pada raja: “Tubuh dan batin Anda bersih, Yang Mulia. Anda baik dan makmur, Anda mencintai agama dan rakyat, dan Anda adalah pahlawan yang berjaya. Katakanlah apa keinginan Anda saat ini?”

Raja menjawab: “Kebahagiaanku kini rampung setelah melihat sosok sucimu. Namun beritahulah aku, apakah pemburu ini telah melukaimu dengan jaringnya?”

Dhritarashtra menjawab: “Pemburu tak melukaiku dengan jaringnya atau pun perkataannya. Semoga sosok kami menghadirkan kebahagiaan baginya seperti ia telah membawa kebahagiaan bagi Yang Mulia.”

Sepanjang malam itu, Dhritarashtra bercakap-cakap dengan Raja Brahmadatta. Sumakha kadangkala turut serta dalam pembicaraan.

Gembira dengan semua nasihat yang diterimanya, raja mendengarkan Dhritarashtra dengan sungguh-sungguh.
Ketika subuh tiba dan Dhritarashtra berkata bahwa ia harus kembali ke
rakyatnya, raja Brahmadatta, meski sedikit bersedih, mengizinkan keduanya kembali ke kawanan mereka.

Pemburu, tentu saja, menjadi kaya raya karena hadiah pemberian raja dan segera berhenti dari pekerjaannya sebagai pemburu.

Beberapa waktu kemudian, Dhritarashtra dan Sumakha membawa seluruh rombongan ke hadapan Raja Brahmadatta untuk sekali lagi menghaturkan rasa terima kasih mereka.
Di sini Dhritarashtra mengajarkan Dharma pada Raja Brahmadatta, yang kemudian membungkuk hormat padanya dan mengikuti semua yang diajarkannya.

Jataka Mala
Untaian Kisah-kisah Kelahiran
Ide orisinal: Bhadraruci, biksu
Alih bahasa: Stanley Khu
Saraswati Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *