Kabar Utama

Petani Garam Curhat ke Moeldoko, Ada Apa?

103 Views

MaliqNews.com | Cirebon – Petani garam, mencurahkan isi hati (curhat) kepada Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) H. Moeldoko. Isi curhatan tersebut, mulai dari kebijakan harga eceran tertinggi (HET), impor garam, hingga abrasi. Hal ini, terjadi belum lama ini saat Moeldoko mengunjungi Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.

“Stok garam lokal tidak sepenuhnya memenuhi kriteria atau kualitas yang diinginkan sektor industri, sehingga kita mengimpor.”

Dihadapan Moeldoko, salah seorang petani garam setempat, Ismail Marzuki (32) menyampaikan bahwa harga garam pernah anjlok hingga di bawah Rp100 per kilogram (kg) dan membuat petani menangis.

“Sekarang lagi Rp500 per kilo akan tetapi kesulitan produksi karena cuaca. Maka dari itu, perlu ada kebijakan HET garam,” curhat Ismail.

Menanggapi hal ini, Moeldoko menyampaikan bahwa dirinya akan mengupayakan adanya HET garam.

“Saya belum bisa menyampaikan ini di sini, karena ini kewenangan ini ada di Kementerian Perdagangan. Nanti akan saya sampaikan kepada beliau pada Kementerian Perdagangan untuk hal ini,” tutur Moeldoko.

Sementara soal impor garam, Moeldoko menjelaskan bahwa kebutuhan di tahun ini mencapai kurang lebih 4,665 juta ton, di mana 3,077 juta ton merupakan kebutuhan industri.

“Sedangkan yang dihasilkan garam lokal pada tahun lalu hanyalah 1,5 juta ton. Masih kurang dan jauh dari target. Di sisi lain stok garam lokal tidak sepenuhnya memenuhi kriteria atau kualitas yang diinginkan sektor industri, sehingga kita mengimpor,” ungkapnya.

Selanjutnya masalah abrasi yang mengancam tambak garam, Moeldoko mengaku akan membicarakannya dengan Kementerian kelautan. Terkait ini, menurutnya sudah ada rencana seperti revitalisasi bibir pantai dan peralihan petani garam ke budidaya ikan nila salin.

“Di sisi lain kondisi bibir pantai di kawasan pantura mengalami kemunduran dan berbagai tantangan. Makanya, upaya kementrian di antaranya adalah budidaya nila salin, yang termasuk komoditas unggul yang memiliki nilai cukup tinggi,” sebut KSP.

Petani garam lainnya, Casman menanggapi ucapan KSP Morldoko. Soal peralihan menuju budidaya ikan nila salin, dirinya akan mengikuti aturan pemerintah.

“Ya, saya ngikut saja. Sebenarnya, dulu sudah pernah budidaya udang tapi bangkrut. Ragu, karena dari kecil sudah jadi petani garam. Tapi kalau keputusan pemerintah seperti itu ya saya pribadi ikut saja,” ucapnya.

(SRD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *